Belajar Sejarah serta Perkembangan dari Alat Musik Kolintang

Pastinya anda pernah mendengar nama alat musik tradisional kolintang bukan? Alat musik tradisional yang satu ini memang sudah dikenal sebab biasanya alat musik tradisional Indonesia ini sudah diajarkan disekolah-sekolah dalam pelajaran kesenian mengenai alat musik tradisional. Alat musik tradisional ini pun berasal dari daerah Minahasa atau Sulawesi Utara. Mari kita lihat sejarah dan perkembangan alat musik yang satu ini. Namun sebelumnya, mari kita belajar sedikit mengenai alat musik tradisional yang satu ini.

Alat Musik Tradisional Kolintang

Kolintang merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari bahan kayu. Jika dipukul maka kolintang biasanya akan mengeluarkan bunyi yang panjang. Bunyi yang dikeluarkan oleh alat musik kolintang bisa bervariasi mulai dari nada yang rendah hingga nada yang tinggi . Bahan kayu yang biasa digunakan untuk membuat alat musik tradisional dari Minahasa ini antara lain kayu kakinik, wenang, bandaran, kayu telur, dan kayu-kayu sejenisnya yang memiliki karakteristik kayu yang ringan namun padat serta memiliki serat yang susunannya membentuk garis-garis yang sejajar.

Nama kolintang pun berasal dari bunyi tang, ting, dan tong. Kata tang berarti nda tengah, kata ting berarti nada tinggi, sedangkan kata tong berarti nada rendah. Dulu orang Minahasa memanggil alat musik ini dengan nama Tong Ting Tang (maino kumolintang = mari bermain tong ting tang) dan dari situlah kemudian dikenal nama kolintang.

Sejarah Kolintang dan Perkembangannya

Awalnya kolintang hanya berupa beberapa potongan kayu yang kemudian diletakkan berjejer di kedua kaki pemain kolintang tersebut dengan posisi pemain yang duduk diatas tanah serta kedua kakinya akan lurus kearah depan. Namun, seiring perkembangan zaman, sekarang tidak ada lagi pemain yang menaruh kolintang diatas kaki mereka saat memainkannya namun akan digunakan tali ataupun dua buah batang pisang. Pada tahun 1830, yaitu semenjak zaman Pangeran Diponegoro, kolintang mulai menggunakan peti sesonator.  Dulu, kolintang diguakan oleh masyarakat Minahasa untuk memuja para arwah leluhur. Namun dengan masuknya para misionaris ke daerah Minahasa maka keberadaan Kolintang sempat menghilang selama hampir 100 tahhun. Barulah setelah masa PD II keberadaan kolintang mulai muncul kembali yan dipelopori oleh Nelwan Katuuk dan hingga sekarang, kolintang sudha mengalami banyak perubahan sehingga kita mengenal kolintang yang ada di zaman sekarang ini.

Anda bisa membeli piano berkualitas dengan merk Yamaha yang sangat terpercaya dan teruji oleh professional.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s